Selasa, 19 April 2011

Tabarruk - Mengambil Keberkahan Dari Bekas atau Tubuh Shalihin

Banyak orang yang keliru memahami makna hakikat tabarruk dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, peninggalan-peninggalannya shallallahu ‘alaihi wasallam, dan para pewarisnya yakni para ulama, para kyai dan para wali dan shalihin. Walaupun hakekat yang belum mereka pahami, tetapi mereka berani menilai kafir (sesat) atau musyrik terhadap mereka yang bertabarruk pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau ulama. Mengenai azimat (Ruqyyat) dengan huruf arab merupakan hal yang diperbolehkan, selama itu tidak menduakan Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana dijelaskan bahwa azimat dengan tulisan ayat atau doa disebutkan pada kitab Faidhulqadir Juz 3 hal 192, dan Tafsir Imam Qurtubi Juz 10 hal.316/317, dan masih banyak lagi penjelasan para Muhadditsin mengenai diperbolehkannya hal tersebut, karena itu semata mata adalah bertabarruk (mengambil berkah) dari ayat ayat Alqur’an. Mengenai benda-benda keramat, maka ini perlu penjelasan yang sejelas jelasnya, bahwa benda benda keramat itu tak bisa membawa manfaat atau mudharrat, namun mungkin saja digunakan Tabarrukan (mengambil berkah) dari pemiliknya dahulu, misalnya ia seorang yang shalih, maka sebagaimana diriwayatkan : Para sahabat seakan akan hampir saling berkelahi saat berdesakan berebutan air bekas wudhunya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (Shahih Bukhari Hadits no. 186), Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa ketika Ya’qub alaihis salam dalam keadaan buta, lalu dilemparkanlah ke wajahnya pakaian Yusuf as, maka iapun melihat, sebagaimana Allah menceritakannya dalam firman Nya subahanahu wa ta’ala : “(Berkata Yusuf alaihis salam pada kakak kakaknya) PERGILAH KALIAN DENGAN BAJUKU INI, LALU LEMPARKAN KEWAJAH AYAHKU, MAKA IA AKAN SEMBUH DARI BUTANYA” (QS Yusuf 93), dan pula ayat : “MAKA KETIKA DATANG PADANYA KABAR GEMBIRA ITU, DAN DILEMPARKAN PADA WAJAHNYA (pakaian Yusuf alaihis salam) MAKA IA (Ya’qub alaihis salam) SEMBUH DARI KEBUTAANNYA” (QS Yusuf 96).
Ini merupakan dalil Alqur’an, bahwa benda/pakaian orang orang shalih dapat menjadi perantara kesembuhan dengan izin Allah tentunya, kita bertanya mengapa Allah sebutkan ayat sedemikian jelasnya?, apa perlunya menyebutkan sorban yusuf dengan ucapannya : “PERGILAH KALIAN DENGAN BAJUKU INI, LALU LEMPARKAN KEWAJAH AYAHKU, MAKA IA AKAN SEMBUH DARI BUTANYA” .

Untuk apa disebutkan masalah baju yang dilemparkan kewajah ayahnya?, agar kita memahami bahwa Allah subhanahu wa ta’ala memuliakan benda benda yang pernah bersentuhan dengan tubuh hamba hamba Nya yang shalih. kita akan lihat dalil dalil lainnya.
Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat maka Asma binti Abubakar shiddiq radhiyallahu anha menjadikan baju beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pengobatan, bila ada yang sakit maka ia mencelupkan baju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu di air lalu air itu diminumkan pada yang sakit (shahih Muslim hadits no.2069).
Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri menjadikan air liur orang mukmin sebagai berkah untuk pengobatan, sebagaimana sabda beliau : “Dengan Nama Allah atas tanah bumi kami, demi air liur sebagian dari kami, sembuhlah yang sakit pada kami, dengan izin tuhan kami” (shahih Bukhari hadits no.5413), ucapan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: “demi air liur sebagian dari kami” menunjukkan bahwa air liur orang mukmin dapat menyembuhkan penyakit, dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala tentunya, sebagaimana dokter pun dapat menyembuhkan, namun dengan izin Allah pula tentunya, hadits ini menjelaskan bahwa rasul saw bertabarruk dengan air liur mukminin bahkan tanah bumi, menunjukkan bahwa pada hakikatnya seluruh ala mini membawa keberkahan dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Seorang sahabat meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dirumahnya agar kemudian ia akan menjadikan bekas tempat shalat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam itu mushalla dirumahnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang kerumah orang itu dan bertanya : “dimana tempat yang kau inginkan aku shalat?”. Demikian para sahabat bertabarruk dengan bekas tempat shalatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga dijadikan mushalla (Shahih Bukhari hadits no.1130)

Nabi Musa alaihis salam ketika akan wafat ia meminta didekatkan ke wilayah suci di palestina, menunjukkan bahwa Musa alaihis salam ingin dimakamkan dengan mengambil berkah pada tempat suci (shahih Bukhari hadits no.1274).
Allah memuji Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Umar bin Khattab radhiyallahu anhu yang menjadikan Maqam Ibrahim alaihis salam (bukan makamnya, tetapi tempat Ibrahim alaihis salam berdiri dan berdoa di depan ka’bah yang dinamakan Maqam Ibrahim alaihis salam) sebagai tempat shalat (mushalla), sebagaimana firman Nya : “Dan jadikanlah tempat berdoanya Ibrahim sebagai tempat shalat” (QS Al Imran 97), maka jelaslah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala memuliakan tempat hamba hamba Nya berdoa, bahkan Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bertabarruk dengan tempat berdoanya Ibrahim alaihis salam, dan Allah memuji perbuatan itu.
Diriwayatkan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam baru saja mendapat hadiah selendang pakaian bagus dari seorang wanita tua, lalu datang pula orang lain yang segera memintanya selagi pakaian itu dipakai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka riuhlah para sahabat lainnya menegur si peminta, maka sahabat itu berkata : “aku memintanya karena mengharapkan keberkahannya ketika dipakai oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan kuinginkan untuk kafanku nanti” (Shahih Bukhari hadits no.5689), demikian cintanya para sahabat pada Nabinya shallallahu ‘alaihi wasallam, sampai kain kafanpun mereka ingin yang bekas sentuhan tubuh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu anhu ketika ia telah dihadapan sakratulmaut, yaitu sebuah serangan pedang yang merobek perutnya dengan luka yang sangat lebar, beliau tersungkur roboh dan mulai tersengal sengal beliau berkata kepada putranya (Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu), "Pergilah pada ummulmukminin, katakan padanya aku berkirim salam hormat padanya, dan kalau diperbolehkan aku ingin dimakamkan disebelah Makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abubakar radhiyallahu anhu", maka ketika Ummulmukminin telah mengizinkannya maka berkatalah Umar radhiyallahu anhu : "Tidak ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan itu” (dimakamkan disamping makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam” (Shahih Bukhari hadits no.1328). Dihadapan Umar bin Khattab radhiyallahu anhu Kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mempunyai arti yang sangat Agung, hingga kuburannya pun ingin disebelah kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan ia berkata : "Tidak ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan itu”
Demikian pula Abubakar shiddiq radhiyallahu anhu, yang saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat maka ia membuka kain penutup wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu memeluknya dengan derai tangis seraya menciumi tubuh beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata : “Demi ayahku, dan engkau dan ibuku wahai Rasulullah.., Tiada akan Allah jadikan dua kematian atasmu, maka kematian yang telah dituliskan Allah untukmu kini telah kau lewati”. (Shahih Bukhari hadits no.1184, 4187).

Salim bin Abdullah radhiyallahu anhu melakukan shalat sunnah di pinggir sebuah jalan, maka ketika ditanya ia berkata bahwa ayahku shalat sunnah ditempat ini, dan berkata ayahku bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di tempat ini, dan dikatakan bahwa Ibn Umar radhiyallahu anhu pun melakukannya. (Shahih Bukhari hadits no.469). Demikianlah keadaan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bagi mereka tempat-tempat yang pernah disentuh oleh Tubuh Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tetap mulia walau telah diinjak ribuan kaki, mereka mencari keberkahan dengan shalat pula ditempat itu, demikian pengagungan mereka terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dalam riwayat lainnnya dikatakan kepada Abu Muslim, wahai Abu Muslim, kulihat engkau selalu memaksakan shalat ditempat itu?, maka Abu Muslim radhiyallahu anhu berkata : Kulihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat ditempat ini” (Shahih Bukhari hadits no.480).
Sebagaimana riwayat Sa’ib radhiyallahu anhu, : "aku diajak oleh bibiku kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seraya berkata : Wahai Rasulullah.., keponakanku sakit.., maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap kepalaku dan mendoakan keberkahan padaku, lalu beliau berwudhu, lalu aku meminum air dari bekas wudhu beliau saw, lalu aku berdiri dibelakang beliau dan kulihat Tanda Kenabian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam " (Shahih Muslim hadits no.2345).
Riwayat lain ketika dikatakan pada Ubaidah radhiyallahu anhu bahwa kami memiliki rambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia berkata: “Kalau aku memiliki sehelai rambut beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, maka itu lebih berharga bagiku dari dunia dan segala isinya” (Shahih Bukhari hadits no.168). demikianlah mulianya sehelai rambut Nabi saw dimata sahabat, lebih agung dari dunia dan segala isinya.
Diriwayatkan oleh Abi Jahiifah dari ayahnya, bahwa para sahabat berebutan air bekas wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengusapkannya ke wajah dan kedua tangan mereka, dan mereka yang tak mendapatkannya maka mereka mengusap dari basahan tubuh sahabat lainnya yang sudah terkena bekas air wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mengusapkan ke wajah dan tangan mereka” (Shahih Bukhari hadits no.369, demikian juga pada Shahih Bukhari hadits no.5521, dan pada Shahih Muslim hadits no.503 dengan riwayat yang banyak).
Diriwayatkan ketika Anas bin Malik radhiyallahu anhu dalam detik detik sakratulmaut ia yang memang telah menyimpan sebuah botol berisi keringat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beberapa helai rambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ketika ia hampir wafat ia berwasiat agar botol itu disertakan bersamanya dalam kafan dan hanut nya (shahih Bukhari hadits no.5925) Tampaknya kalau mereka ini hidup di zaman sekarang, tentulah para sahabat ini sudah dikatakan musyrik, tentu Abubakar sudah dikatakan musyrik karena menangisi dan memeluk tubuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berbicara pada jenazah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Tentunya umar bin Khattab sudah dikatakan musyrik karena disakratulmaut bukan ingat Allah malah ingat kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tentunya para sahabat sudah dikatakan musyrik dan halal darahnya, karena mengkultuskan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan menganggapnya tuhan sembahan hingga berebutan air bekas wudhunya, mirip dengan kaum nasrani yang berebutan air pastor Nah.. kita boleh menimbang diri kita, apakah kita sejalan dengan sahabat atau kita sejalan dengan generasi sempalan.
Wahai saudaraku, jangan alergi dengan kalimat syirik, syirik itu adalah bagi orang yang berkeyakinan ada Tuhan Lain selain Allah, atau ada yang lebih kuat dari Allah, atau meyakini ada tuhan yang sama dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Inilah makna syirik. Sebagimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : “Kebekahan adalah pada orang orang tua dan ulama kalian” (Shahih Ibn Hibban hadits no.559) Dikatakan oleh Al hafidh Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy menanggapi hadits yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca mu’awwidzatain lalu meniupkannya ke kedua telapak tangannya, lalu mengusapkannya ke sekujur tubuh yang dapat disentuhnya, hal itu adalah tabarruk dengan nafas dan air liur yang telah dilewati bacaan Alqur’an, sebagaimana tulisan dzikir dzikir yang ditulis dibejana (untuk obat). (Al Jami’usshaghiir Imam Assuyuthiy Juz 1 hal 84 hadits no.104)
Telah dibuktikan pula secara ilmiah oleh salah seorang Profesor Jepang, bahwa air itu berubah wujud bentuknya dengan hanya diucapkan padanya kalimat kalimat tertentu, bila ucapan itu berupa cinta, terimakasih dan ucapan ucapan indah lainnya maka air itu berubah wujudnya menjadi semakin indah, bila diperdengarkan ucapan cacian dan buruk maka air itu berubah menjadi buruk wujud bentuknya, dan bila dituliskan padanya tulisan mulia dan indah seperti terimakasih, syair cinta dan tulisan indah lainnya maka ia menjadi semakin indah wujudnya, bila dituliskan padanya ucapan caci maki dan ucapan buruk lainnya maka ia berubah buruk wujudnya, kesimpulannya bahwa air itu berubah dengan perubahan emosi orang yang didekatnya, apakah berupa tulisan dan perkataan.

Keajaiban alamiah yang baru diketahui masa kini, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat telah memahaminya, mereka bertabarruk dengan air yang menyentuh tubuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka bertabarruk dengan air doa yang didoakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka hanya mereka mereka kaum muslimin yang rendah pemahamannya dalam syariah inilah yang masih terus menentangnya padahal telah dibuktikan secara dalil shahih dan pula pembuktian ilmiah, menunjukkan pemahaman mereka itulah yang jumud dan terbelakang.
Walillahittaufiq

Tidak ada komentar:

Posting Komentar